Senin, 12 Agustus 2013

Gaji Honorer Penyuluh Agama Naik 100 Persen

Gaji Honorer Penyuluh Agama Naik 100 Persen
Kamis, 6 Juni 2013
Jawa Barat (Pinmas)—- Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan gaji honorer penyuluh agama naik. Hal itu disampaikan saat Pembinaan dan penyerahan SK Penyuluh
Agama Honorer (PAH) Non PNS se Prov. Jabar Tahun 2013 di Gedung Pusat Dakwah Islam, Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/6).
Gaji honorer penyuluh agama pada awalnya hanya Rp 100.000/bulan, lalu naik menjadi Rp150.000/bulan. “Dari Rp150.000/ bulan, kemudian dinaikkan lagi 100% menjadi Rp300.000/bulan,” terang Menag.
Menag menegaskan bahwa Kementerian Agama akan terus berupaya dan memperjuangkan kenaikkan gaji honorer penyuluh agama. “Bukannya Pemerintah berhenti pada angkat 300, tapi berupaya juga bagaimana dari 300 itu nantinya bisa 500/bln. Ini sedang diperjuangkan,“terang Menag.
“Kesejahteraan masyarakat adalah komitmen kita semua, khususnya Kementerian Agama,” imbuh Menag.
Sehubungan itu, Menag mengapresiasi Gubernur Jawa Barat yang tidak ‘mengharamkan’ APBD nya untuk biaya pendidikan agama. Menag yang didampingi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Kakanwil Kemenag Jawa Barat Saeroji, beserta jajarannya, juga mengapresiasi terkait dikeluarkannya SK larangan kegiatan Ahmadiyah di Jawa Barat.
Menag juga mengajak masyarakat untuk dapat memberantas buta aksara Al-Qur’an. (arif)

Pedoman Karya Ilmiah Penyuluh Agama Islam

TPQ Shidiqiin Wara` Binaan Penyuluh Muda
Pedoman Karya Ilmiah Penyuluh Agama Islam

Oleh ; Nasrulloh disadur dari tulisan M. Zaenul Asyhuri
Selain bahasa, tulisan juga berfungsi sebagai alat komunikasi dan saranapengembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta penyampaian ajaran agama Islam.
Pengertian Karya Ilmiah Populer adalah karya ilmiah yang digemari oleh orang banyak. Hal ini ada kaitannya pula dengan sitim sirkulasi dan marketing sebuah perusahaan media massa. Sehingga yang disebut karya ilmiah popular adalah karya ilmiah yang diekspos pada sebuah media massa cetak seperti Koran, majalah dsb.
Jenis tulisan itu bermacam-macam antara lain : (1) News, (2) Feature, (3) Essay, (4) Laporan atau Reprtase, (5) Artikel Opini. Namun dalam penggunaan istilah ilmiah popular identik dengan tulisan jenis artikel opini.
Sementara artikel opini adalah karangan yang berisi ulasan atau opini terhadap suatu masalah atau dengan kata lain menganalisa suatu persoalan. Karena itu, aspek analisa serta opini (pendapat) penulisnya lebih menonjol.

Kriteria Tulisan
Sesuai dengan fungsinya, yakni untuk membantu pembaca mencerna informasi, menentukan pendapat dan sikap, dan melihat kedepan, maka artikel opini harus :
1.        Didukung dengan fakta yang akurat
Apabila tulisan dimaksud menyebut firman Allah, maka harus desebutkan pula surat apa dan ayat berapa. Jika menyebutkan sabda nabi, maka harus disebutkan Hadits riwayat siapa atau di dalam kitab apa.
Demikian halnya jika menunjukkan data angka tertentu, maka harus disebutkan sumber pengambilan datanya, kecuali data yang telah diketahui oleh umum. Sekalipun demikian, penulis bisa menggunakan kata fleksibel seperti tidak kurang, lebih kurang dan sebagainya.
2.        Tidak emosional
Penulis tidak bisa menunjukkan emosionalitasnya sehingga kelihatan tidak sportif dan tidak proporsional. Bahkan dalam suatu hal yang penulis tidak setuju, cara penulisannya pun harus halus seperti, saya kurang sependapat dengan …………, karena menurut hemat saya …..
3.        Tidak terlalu panjang
Untuk ukuran media masa koran, tulisan ilmiah popular antara 1/2 sampai dengan empat halaman sesuai dengan kolom yang tersedia. Tulisan yang panjang bisa juga dan kadang-kadang kalau bagus serta menarik dimuat di Koran, tetapi pemuatannya secara bersambung.
Supaya tulisannya jelas dan padat, maka penggunaan kalimat efektifnya diterapkan semaksimal mungkin.
4.        Tuntas ulasannya
Tidak menggantungkan sebagian ulasan sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru. Atau dengan kata lain ulasannya harus lengkap dan tidak boleh ada yang tertinggal atau disembunyikan.
5.        Argumentatif dan rasional
Bahasa yang digunakan dibuat se argumentative agar pembaca yakin bahwa apa yang diutarakan, apa yang dibahas, atau apa yang disanggah dapat meyakinkan penulis bahwa opini atau pendapatnya benar. Serta tidak mengungkap hal-hal yang tidak bisa dinalas oleh pembaca.
6.        Komunikatif
Artinya bahwa tulisan itu hendaknya menimbulkan interest kedua belah puhak, antara penulis dan pembaca. Sehingga dalam penggunaan bahasa diupayakan seolah-olah pembaca diajak turut berpikir dan berbicara.
7.        Ada hal yang baru/ actual
Terdapat masukan/ ide atau hal baru dalam tulisan baik itu penemuan, penelitian, angan-angan atau cita-cita yang dituangkan.Serta sesuai dengan situasi dan kondisi kebutuhan pembaca saat itu (actual)
8.        Asli pendapat penulis
Tidak merupakan jiplakan atau kutipan dari orang lain. Kalau toh terpaksa dalam tulisan mencantumkan pendapat atau kutipan orang lain, maka sumber atau orangnya disebutkan.
9.        Mendidik
Tulisan yang dimuat harus mendidik moral, akhlak, dan hal-hal keduniaan lainnya demi kemajuan pembaca atau masa depan pembaca. Tidak diperkenankan menulis dengan isi memprovokasi, mengarahkan pembaca untuk berbuat anarkhis dsb.
10.    Penggunaan Bahasa
Tidak mengulang-ulang bahasa yang sama, menghindari pemborosan kata, dan menggunakan pilihan bahasa yang paling halus dan sederhana namun indah dan mudah dipahami pemcaba. Dapat menggunakan istilah asing dengan catatn diberi penjelasan.
11.    Dapat dipertanggungjawabkan
Tulisan tidak mengandung delik atau cacat hukum yang bisa membawa penulis berurusan dengan meja hijau. Serta tidak mengungkap fakta atau contoh yang fiktif/ tidak benar.

Teknik Penulisan
Pedoman penulisan karya tulis ini sebenarnya juga mengacu pada pedoman penulisan karya tulis ilmiah pada umumnya. Tetapi mengingat keterbatasan kolom yang tersedia, tuntutan bisnis dan tuntutan pembaca, maka teknik penulisannya pada umumnya sebagai berikut :
Diketik dengan huruf pika/ font size 12 dan spasi ganda pada kertas berwarna putih ukuran folio sepanjang 3 sampai 4 halaman. Judul diketik dengan huruf capital pada posisi tengah atas. Judul digaris bawahi dan diwah judul diketik nama lengkap penulis sesuai dengan identitas yang disertakan. Kemudian pada akhir tulisan disebutkan status dan jabatan penulis sehari-hari.
Komposisi tulisan pendahuluan atau pengantar menuju isi 15 – 20% dari isi tulisan, isi 70 – 80% dari isi tulisan, dan penutup 5 – 10% dari isi tulisan.
Naskah dibuat dalam dua rangkap dan asli naskah dimasukkan dalam amplop ukuran departemen, diketik nama dan alamat pengirim serta redaksi tujuan pengiriman. (Contoh pada tutor/ instruktur).
Maksud dibuatnya naskah dalam dua rangkap, karena dipakai sebagai alat control/ koreksi terhadap tulisan yang telah dimuat di media massa. Karena Dewan redaksi berhak merubah tulisan yang masuk ke meja redaksi sepanjang tidak merubah maksud dan inti dari tulisan. Jangan sampai tulisan yang sudah diekspos ternyata menyimpang atau dipolitisir oleh redaksi demi keuntungan sepihak.

Teknik Penyusunan
Teknik penyusunan karya tulis ilmiah populer yang paling mudah untuk dipedomani:
1.        Buatlah thema / judul tulisan sebelum memulai menulis
Suatu karya mustahil dapat tertulis dengan baik tanpa menentukan thema terlebih dahulu sebelum menyusun tulisan walaupun thema tersebut tidak ditulis.
Tetapi bagi penulis professional, thema tulisan sifatnya tidak paten. Artinya, terkadang ditengah menulis, kemudian menemukan hal baru dan hal itu yang menurutnya lebih penting dan menarik untuk dikupas.
Penentuan judul dilakukan setelah tulisan selesai disusun agar tergambar jelas kesesuaian antara judul dengan isinya. Dan kalimat judul yang paling baik adalah tidak lebih dari 3 kata.
2.             Buatlah kerangka (out line) naskah
3.             Pengumpulan bahan
4.             Pengolahan bahan
5.             Penyusunan
Buatlah tulisan awal sebagus dan semenarik mungkin agar pembaca tertarik dan kemudian membacanya dengan cermat, tenang dan senang. Tetapu untuk membuat tulisan awal menarik tidaklah mudah.
Seorang penulis kadang-kadang untuk mengawali sebuah tulisan memerlukan waktu berjam-jam bahkan sampai berhari-hari. Tetapi begitu tulisan awal atau fondasi tulisan telah selesai, maka isi tulisan dan mengkahirinya sangat mudah.
Untuk mengawali sebuah tulisan, dapat dilakukan dengan mengungkapkan suatu peristiwa, kasus, anekdot, ayat/ hadits dan kisah teladan serta hal-hal menarik lainnya.
Mengingat menulis itu merupakan proses kreatifitas, maka tidak banyak orang yang menulis dengan baik. Tetapi seseorang bisa belajar dan berlatih terus agar bisa menulis dengan baik. Sehingga sebagai penyuluh, kita tidak hanya pandai ceramah melainkan juga mahir menuangkan ceramah itu dalam bentuk tulisan.
Untuk mengakhiri tulisan ini, perlu disampaikan bahwa dalam mengirim sebuah karya tulis ilmiah popular ke media massa, foto copy identitas penulis (diutamakan sesuai dengan profesinya) disertakan, dan makalah ini merupakan contoh kecil dari bentuk tulisan yang akan dikirim ke media massa cetak.***

TATA CARA PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYULUH (POKJALUH)

TATA CARA PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYULUH (POKJALUH)
Binaan TPQ Shidiq Rabany


Oleh : Nasrulloh disadur dari tulisan M. Zaenul Asyhuri

PENGERTIAN
Pokjaluh (kelompok kerja penyuluh) adalah suatu kelompok kerja yang pimpinan/ coordinator serta anggotanya terdiri dari para penyuluh agama fungsional dan berkedudukan di salah satu unit kerja penyuluh, seperti Pokjaluh Kota Manado / Pokjaluh Sulawesi Utara dsb.
Anggota Pokjaluh tingkat Kota/ Kabupaten terdiri dari seluruh penyuluh fungsional baik terampil maupun ahli yang berada di Kota/ Kab tersebut. Sedangkan anggota Pokjaluh propinsi terdiri dari para coordinator penyuluh dari tingkat kota/ kab.
Lahirnya dan perlunya pembentukan Pokjaluh dilatarbelakangi oleh berbagai sebab seperti :
1.        Bahwa jabatan fungsional penyuluh agama merupakan jabatan fungsional rumpun keagamaan yang masih sangat baru (terhitung hingga 01-10-2002 masih berusia 3 tahun).
2.        Bahwa Undang-Undang, Peraturan-Peraturan serta Pedoman-pedoman tentang kepenyuluhan sampai saat ini belum lengkap dan sempurna, dan masih terus mengalami proses penyempurnaan baik oleh Departemen Agama Pusat maupun hasil kajian ilmiah dari para penyuluh di daerah melalui forum diskusi, seminar, lokakarya dan sebagainya.
3.        Bahwa penyuluh agama merupakan ujung tombak Departemen Agama dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama yang selanjutnya dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional dengan berhadapan dan langsung berkecimpung di tengah masyarakat.
4.      Bahwa banyak penyuluh yang sampai saat ini telah menerima dan menikmati tunjangannya sebagai pejabat penyuluh fungsional, tetapi belum pernah melaksanakan tugas karena belum memahami tugas-tugas pokoknya.
5.   Bahwa keberadaan penyuluh agama yang semakin hari akan bertambah sesuai dengan rasionalitas kebutuhan, yakni tiap kecamatan satu orang penyuluh agama Islam, maka hal itu perlu dikoordinir agar pelaksanaan tugas, pelaporan hasil pelaksanaan tugas dan tugas-tugas pokok lainnya dapat terarah dan terukur pencapaian hasilnya.
6.        Banyak pejabat structural baik sebagai atasan langsung penyuluh maupun yang terkait dengan tim penilai angka kredit penyuluh belum memahami tentang kepenyuluhan.
WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
Sebagai coordinator Penyuluh, untuk sementara ini kewenangannya baru pada batas pengkoordiniran penyuluh dan membantu tugas-tugas penyuluh yang meliputi penyusunan program, pelaksanaan tugas pokok, pelaporan hasil pelaksanaan tugas, termasuk pelayanan penilaian angka kredit.
Tetapi tugas dan tanggung jawabnya antara lain :
1.        Mengkoordinasikan dan menyusun tim penilai bersama kepegawaian untuk diusulkan dan kemudian di SK-kan oleh pimpinan unit.
2.        Mengkoordinasikan pembagian wilayah kerja penyuluh.
3.        Menyusun telaahan kepada atasan langsung tentang : (1) kebutuhan dan rasionalitas jumlah penyuluh, (2) Pemberikan peringatan, teguran tertulis dan pengusulan pemberhentian dari jabatan penyuluh.
4.        Mengkoordinir pembuatan program perjalanan dinas luar dan laporan pelaksanaan Bimbingan Penyuluhan, dsb.
5.        Mengkoordinasikan pelaksanaan BP atau konsultasi secara kelompok.
6.        Mengkoordinir pelaksanaan kajian ilmiah seperti diskusi dan sebagainya.
7.        Mengkoordinasikan penyusunan dan pengumpulan laporan penyuluhan termasuk mengkoordinir kelancaran pengurusan PAK kepada tim penilai dan pengusulan penetapan PAK ke Kanwil
8.      Membantu atasan langsung dalam penyusunan program tahunan pengusulan pengadaan sarana transportasi, bea siswa studi S.1, S.2 dan S.3 baik di dalam maupun luar negeri melalui DUK/ DUP setiap tahun/ DIPA untuk saat sekarang.

KRITERIA
Meskipun tugas coordinator Pokjaluh itu kompleks dan berat serta tidak mendapatkan tunjangan dari pelaksnaan tugasnya, tetapi untuk bisa dipilih menjadi coordinator penyuluh setidaknya harus memiliki criteria sebagai berikut :
1.        Memahami betul tugas pokok seluruh jenjang penyuluh
2.        Mampu memberikan bimbingan terhadap pelaksanaan tugas-tugas kepenyuluhan
3.       Penyuluh Ahli/ memiliki pangkat tertinggi (karena akan masuk sebagai tim penilai angka kredit jabatan fungsional)
4.        Aktif, kreatif dan inovatif

PENGANGKATAN
Koordinator Pokjaluh diangkat dan dipilih melalui musyawarah Pokjaluh di wilayahnya masing-masing kemudian di SK-kan oleh pimpinan Unit masing-masing/ Kakandepag apabila di tingkat Kota/ Kabupaten.
Setelah terbentuk Pokjaluh, diadakan pertemuan rutin setiap seminggu sekali untuk melaksanakan diskusi baik tentang pembahasan program kerja, membahas dan mencari solusi kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, termasuk kendala dalam penyusunan PAK dan pengusulan kenaikan pangkat/ jabatan.
PENUTUP

Demikian pengertian tentang Pokjaluh dan kegiatan yang akan dilaksanakannya, untuk dapat dipedomani.

TEHNIK MENYUSUN MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM

TEHNIK MENYUSUN MATERI PENYULUHAN AGAMA ISLAM[1]
Oleh : H. Akhmad Su’aidi, SPd
Kepala Penyuluhan dan Lembaga Dakwah
Bidang Penamas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah
Lokasi Binaan Penyuluh Agama Islam Banyumas


A.   LATAR BELAKANG
            Dalam satu dasawarsa ini, perkembangan arus komunikasi dan teknologi demikian pesat, sehingga dampaknya pun  sangat cepat  mempengaruhi sendi-sendi kehidupan kita. Dalam situasi seperti ini, peningkatan dan peranan penyuluh agama sangat penting karena problematika dan tantangan yang dihadapi umat Islam semakin komplek, baik yang bersifat lokal, regional maupun global.
            Bila dilihat gejala nampak di masyarakat, sangat jelas peran penyuluh agama belum menonjol ditengah maraknya dan semakin membudayanya tabligh dan diskusi oleh beberapa lembaga-lembaga dakwah dan majlis-majlis ta’lim yang tumbuh subur di negeri ini, baik yang dilakukan kelompok transnasional[2] maupun kelompok nation state[3], bahkan kelompok ultranation state.[4] Lembaga-lembaga dakwah ini selain berfungsi sebagai forum keagamaan, juga berkembang sebagai media komunikasi yang mampu memotivasi jamaahnya dan umat untuk menjawab tantangan perkembangan yang menyangkut penegakan hak asazi manusia, supremasi hukum, pemerataan ekonomi, dan keadilan.
            Oleh karena itu penyuluh agama dituntut untuk mengikuti perkembangan masyarakat yang semakin pesat sebagai akibat kemajuan iptek, khususnya teknologi komunikasi dan pengaruh global, sehingga penyuluh harus mampu menyesuaikan dengan tuntutan zaman yang harus dikelola dengan baik, lebih-lebih sasarannyapun saat ini semakin berkembang dan beban tugasnyapun semakin berat serta komplek. Untuk tuntutan itulah, Penyuluh Agama harus mampu mengemas dan menyajikan materi yang mampu memenuhi kebutuhan umat dan harus mampu pula mengolah serta menyampaikan progam-progam pemerintah dengan bahasa agama dan menjadi jembatan bagi lembaga-lembaga dakwah yang berkembang di masyarakat.
            Semakin banyaknya persoalan yang dihadapi masyarakat, semakin banyak pula para Penyuluh Agama dituntut terus aktif dalam mempersiapkan dirinya agar ajaran  Islam benar-benar dirasakan oleh umat sebagai ajaran yang universal dan rahmatan lil ‘alamin.
B.   PENGERTIAN DAN TUJUAN PENYUSUNAN MATERI

A.   Pengertian
Menurut pengertian bahasa, materi berarti segala sesuatu yang tampak. Dalam pengertian yang lebih luas materi sering diartikan sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, atau disampaikan.
B.   Tujuan
Tujuan penyusunan materi penyuluhan agama Islam untuk memberikan arah tentang gerak langkah penyuluhan dalam ruang lingkup tugas Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat Pemberdayaan Masjid, dengan visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Terwujudnya tatanan masyarakat Indonesia yang agamis, bertaqwa, cerdas, terampil, sehat, jasmani rohani, sadar lingkungan, toleran, bertanggung jawab terhadap agama, nusa dan bangsa.
Misi :
a.     Menjadikan Agama Islam pada masyarakat yang terinntegrasi denga program Pendidikan Agama untuk semua (PAus)
b.     Menciptakan kondisi yang kondusif bagi terwujudnya masyarakat belajar agama dengan masjid sebagai sentrum dari simpul-simpul jaringan kegiatan masyarakat belajar dan pelayanan kepada masyarakat.

C.        METODE PENYULUHAN AGAMA
Dalam rangka pencapaian tujuan penyuluhan agama oleh para Penyuluh Agama, maka setiap kegiatan perlu diarahkan pada dua konsep dasar sebagai berikut :
1.    Billisan al Hal
Maksudnya adalah penyampaian ajaran Islam dengan menggunakan keteladanan budi pekerti yang luhur, sehingga seorang Penyuluh Agama akan menjadi pola anutan dalam bersikap, bertindak dan bertingkah laku. Dengan demikian setiap Penyuluh Agama dituntut berpenampilan yang mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam, sehingga akan menjadi referensi kehidupan masyarakat sekeliling yang mengitarinya.
2.    Billisan al Mawal
Maksudnya adalah proses penyuluhan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan lisan dalam bentuk ceramah, Tanya jawab, diskusi, konsultasi, atau yag ditekankan dalam bnetuk lahitan, demontrasi, penugasan dan dapat berupa bercerita dari hasil observasi dan semacamnya serta pernyataan-pernyataan tertulis, yang semua itu merupakan bentuk metode penyuluhan.
Kedua konsep tersebut diterapkan bersama-sama dalam mencapai tujuan dan sebagai suatu proses yang diharapkan menghasilkan efek (dampak) dalam berfikir, bersikap dan berperilaku.

D.   TEHNIK PENYUSUNAN MATERI PENYULUHAN
1.    Perencanaan
Agar penyuluhan dapat berjalan dengan efektif, diperlukan perencanaan yang matang. Rencana adalah berbagai keputusan yang disusun secara tertulis dengan sistematis untuk dilaksanakan dalam kegiatan-kegiatan untuk tercapainya tujuan yang ditentukan. Rencana yang baik akan memberi 80% andil untuk keberhasilan. Hal ini berarti bahwa rencana amat penting artinya bagi suatu organisasi, lembaga pemerintahan ataupun swasta. Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi rencana.  Pertama, berfungsi sebagai pedoman berjalannya organisasi atau lembaga. Kedua, sebagai alat pengendali organisasi tersebut. Ketiga, sebagai alat evaluasi berhasil tidaknya organisasi. Organisasi, lembaga atau bahkan instansi sulit dikatakan berhasil atau setidaknya jika tanpa rencana yang jelas.
Dalam himpunan peraturan tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya, penyuluh harus menyusun rencana kerja, baik rencana lima tahunan, rencana tahunan, dan rencana operasional. Setiap bentuk rencana tahunan dan rencana operasional jelas tidak boleh menyimpang dari koridor ke arah tujuan jangka panjang (5 tahunan) tadi.
2.    Pemilihan Materi
Setelah perencanan dibuat, apapun materi penyuluhan yang disampaikan oleh seorang penyuluh, pertama-tama harus diingat bahwa materi tersebut harus senantiasa mengacu kepada kebutuhan yang telah dirasakan oleh jamaah. Tetapi didalam prakteknya seringkali penyuluh menghadapi kesulitan untuk memilih dan menyajikan materi yang benar-benar dibutuhkan oleh jamaah. Hal ini disebabkan oleh karena keragaman sasaran yang dihadapi, sehingga menuntut keragaman kebutuhan yang berbeda atau keragaman materi yang harus disampaikan pada saat yang sama. Kesulitan lain juga dapat muncul manakala pemahaman tentang sasaran dan waktu menjadi pembatas.
Sehubungan dengan hal tersebut, agar setiap penyuluh mampu membeda-bedakan ragam materi penyuluhan yang ingin disampaikan pada setiap kegiatannya ke dalam :
a.    Materi Pokok (Vital)
Materi pokok merupakan materi yang benar-benar dibutuhkan dan harus diketahui oleh sasaran utamanya. Materi pokok sedikitnya mencakup 50 persen dari seluruh materi yang disampaikan.
b.    Materi Penting (Important)
Materi penting berisi dasar pemahaman tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan yang dirasakan oleh sasarannya. Materi ini diberikan sekitar 30 persen dari seluruh materi yang disampaikan.
c.    Materi Penunjang (Helpful)
Materi penunjang masih berkaitan dengan kebutuhan yang dirasakan yang sebaiknya diketahui oleh sasaran untuk memperluas cakrawala pemahamannya tentang kebutuhan yang dirasakannya itu. Materi ini maksimal 20 persen dari seluruh materi yang disampaikan.
d.    Materi Mubazir (Super flous)
Materi ini sebenarnya tidak perlu dan tidak ada gayutannya dengan kebutuhan yang dirasakan oleh sasaran. Karena itu dalam setiap kegiatan penyuluhan sebaiknya justru dihindari penyampaian materi seperti ini.

3.    Penyusunan Materi
Dalam penyuluhan agama sebagaimana yang tercantum dalam Himpunan Peraturan tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya, bahwa penyusunan materi memerlukan beberapa tahapan, yaitu menyusun desain materi, menyusun konsep materi, mendiskusikan konsep materi dan merumuskan materi. Apa perbedaan desain materi dan konsep materi?
a.    Desain Materi
Adalah gambaran  dari materi yang dipilih untuk disampaikan kepada jamaah yang tersusun dalam sebuah lembar tertulis yang berupa Lembar Persiapan Penyuluh. Penyusunan desain dimaksudkan untuk memudahkan Penyuluh menyampaikan materi penyuluhannya, karena didalamnya  dicantumkan hal-hal yang akan digunakan dan disampaikan kepada sasaran terkait dengan materi penyuluhan. Contoh format desain terlampir :
b.    Konsep Materi
Selain desain perlu juga disiapkan ringkasan dari materi yang dapat dituangkan kedalam konsep yang kadang disebut degan “sinopsis”. Sinopsis berasal dari kata synopical yang artinya ringkas. Berdasarkan asal kata tersebut, sinopsis diartikan: ringkasan suatu materi tulisan yang panjang dan sinopsis itu sendiri ditulis dalam bentuk narasi. Contoh format konsep terlampir.
Sinopsis terdiri dari dua versi, yaitu :
1.     Sinopsis yang ditulis untuk meringkaskarya/buku/kitab yang sudah ada atau sudah ditulis secara lengkap
2.     Sinopsis yang ditulis untuk persiapan menulis suatu gagasan yang akan dituangkan dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi.
Langkah-langkah membuat sinopsis karya/buku/kitab  yang sudah ada adalah:
a.    Membaca materi dengan seksama dan penuh konsentrasi;
b.    Menyediakan waktu khusus untuk membaca;
c.    Membaca dalam kondisi rileks – tanpa tekanan;
d.    Pahami materi;
                                   
Sedangkan langkah-langkah membuat snopsis untuk menyampaikan ide atau gagasan,adalah :
a.     Pemetaan materi yang akan disampaikan: siapa sasarannya?;
b.     Sinopsis yang telah ditulis perlu disertai lembar-lembar presentasi detail    gagasan sebagai pendukungnya;
c.      Siap menerima kritikan dan melakukan revisi (apabila dianggap perlu)       bahkan mungkin merombak (re-writing);\
d.     Siap mempresentasikan sinopsis.
           
     Perlu diperhatikan bahwa, konsep materi bukan hanya berupa tulisan naskah, tapi dapat pula berupa leaflet, booklet maupun slide, bahkan dapat berupa rekaman CD baik audio maupun visual, yang nantinya akan dikembangkan lebih jauh melalui media elektronik atau internet.
     Setelah desain dan konsep materi tersaji, maka segera didiskusikan dalam pertemuan penyuluh sehingga mencapai tahap perumusan materi penyuluhan. Semua bentuk desain, konsep, dan diskusi serta perumusan materi dapat dijadikan sebagai sumber nilai angka kredit.


(Contoh Format)
DESAIN MATERI
(Lembar Persiapan Penyuluhan)

Judul : …………………………………………………………………
Tujuan : …………………………………………………………………
Metode : …………………………………………………………………
Media : …………………………………………………………………
Waktu : …………………………………………………………………
Alat Bantu : …………………………………………………………………

Pokok Kegiatan
Uraian Kegiatan
Waktu
Keterangan
Pendahuluan
Isi / Materi
Pengakhiran

                                                                                    Tempat dan Tanggal Penyusunan Desain
                                                                                                           Penyuluh,

                                                                                               Nama dan Tanda tangan

(Contoh Format)
                                                            KONSEP MATERI / SINOPSIS
Judul Materi : …………………………………………………….
Bagian awal --------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagian utama -----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagian akhir -------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                                                        Tempat dan Tanggal Penyusunan Konsep
                                                                                                             Penyuluh,


                                                                                               Nama dan Tanda tangan


[1] Disampaikan pada kegiatan “Orientasi Penyusunan Materi Penyuluh” di Hotel Pandanaran Semarang pada tanggal 6-8 April 2011.
[2] Adalah kelompok yang tidak mengusung nasionalisme, tetapi lebih bertumpu pada konsep umat secara internasional. Lebih bercoral skripturalis dan fundamentalis serta secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrument modern. Contoh : Hizbut Tahrir, Salafy Dakwah, Salafy Sururi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Syiah dan Jihadi/Mujahidin.
[3] Adalah kelompok yang lahir dan tumbuh di Indonesia, bertumpu dalam bingkai nasional dan masih menerima kultur masyarakat dalam format dakwahnya. Contoh : NU, MUhammadirah, Persis dll.

[4] Adalah kelompok yang lahir di Indonesia dan berkembang, selain di negeri ini juga menyebar ke luar negeri, yang memiliki konsep keummatan, meminimalisir nasionalisme dan kultur dalam sendi kehidupan pengikutnya. Contoh: Jamaatul Muslimin Hizbullah, LDII, MTA, NII, Daarut Tauhid dll.